Breaking News

Polisi Dan Keluarga Kecewa Warga Tak Menolong Saat Begal Beraksi

Ada satu berita yang pilu dan membuat hati ini ikut terguncang.

Sebuah video yang tersebar di media sosial memperlihatkan sosok seorang polisi bersimbah d4rah, terkapar di pinggir jalan. 

Ia bukan warga biasa — ia anggota Sabhara Polres Metro Bekasi, Briptu AA, yang dalam perjalanan pulang setelah menjalankan tugas.

Namun yang terjadi sungguh tak terduga…
Ketika ia terluka akibat aksi pembegalan dan terkapar sambil teriak minta tolong, yang muncul bukan tangan yang menolong — tapi hanya suara hening dari kerumunan. Banyak warga terlihat tak berani mendekat, karena mereka takut terlibat atau tidak tahu harus berbuat apa di tengah situasi yang menyeramkan itu. 

Bayangkan tekanan yang dirasakan oleh keluarga Briptu AA. 
Saat menerima kabar tersebut, mereka pasti berharap ada yang membantu, ada yang datang menolong dengan rasa kemanusiaan dan kepedulian. Namun kenyataannya, tak seorang pun berani maju. Tidak karena tak berbudi, tapi mungkin karena ketakutan, kebingungan, atau rasa aman yang kini begitu rapuh di tengah masyarakat.  Mereka takut jadi tersangka. 

Kekecewaan itu bukan hanya milik keluarga korban —
Polisi yang mendengar kejadian ini juga merasa sedih dan kritis menilai kondisi sosial kita saat ini, ketika seseorang yang sedang sekarat pun tak segera dibantu hanya karena takut risiko. 

Peristiwa ini bukan sekadar kriminalitas.
Ini adalah cermin dari realitas sosial yang memanggil kita untuk bertanya:
Apakah kita siap untuk saling membantu saat seseorang dalam bahaya?

Bagaimana kita menjaga rasa empati di tengah ketakutan dan risiko?

Karena pada akhirnya, yang terluka bukan hanya tubuh sang korban, tapi juga hati yang melihat dan tak berani bertindak, serta keluarga yang merasa sendiri dalam doa dan harapannya. 

0 Komentar

Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
© Copyright 2022 - KOMPAS BANTEN