JAKARTA, KOMPASBANTEN.COM - Langit politik Jakarta memanas. Sebuah manuver senyap tapi menghentak terjadi di pusat kekuasaan.
Staf Khusus Presiden RI resmi memanggil Ketua Umum Fast Respon Indonesia Center (FRIC), H. Dian Surahman. Kabar ini menggetarkan ruang publik digital.
Bukan sekadar silaturahmi. Ini adalah panggilan kehormatan negara untuk sebuah organisasi yang selama ini bekerja tanpa sorotan kamera.
Di saat organisasi lain sibuk perang opini di TikTok dan Twitter, FRIC memilih jalan sunyi. Hasilnya? Jaringan solid di 34 Provinsi dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote. Satu komando, satu tujuan.
FRIC telah membuktikan diri bukan sebagai organisasi wartawan biasa. FRIC adalah benteng penjaga marwah Polri dan tameng terdepan program Presiden RI.
Seorang sumber di lingkaran dalam Istana membocorkan alasan pemanggilan ini:
"Istana butuh mata dan telinga yang jujur di lapangan. Bukan laporan ABS yang manis di atas kertas. Presiden butuh denyut nadi rakyat yang sebenarnya, dan FRIC memilikinya."
Ini adalah pengakuan telak. Loyalitas FRIC yang tak berbatas kepada NKRI, Presiden, dan Kapolri dalam mewujudkan Polri PRESISI - Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan, akhirnya mendapat tempat terhormat.
Dikonfirmasi terpisah, Ketua Umum FRIC H. Dian Surahman memberikan pernyataan singkat namun penuh makna:
"Nanti kita bahas lebih lanjut setelah pertemuan berlangsung. Yang jelas, FRIC lahir karena cinta Nusantara dan bangga kepada Polri. Kami siap totalitas menjadi Satgas Penangkal Opini. Meluruskan yang bengkok, mematahkan narasi adu domba, dan mengawal penuh kebijakan Presiden menuju Indonesia Emas."
Jika kemarin FRIC bergerak dengan kekuatan sendiri, hari ini FRIC bergerak dengan restu dan kekuatan Istana.
Perang melawan hoax dan narasi pemecah bangsa kini memasuki babak baru.
(Red)

0 Komentar