LEBAK || Fenomena maraknya foto dan video editan pocong yang beredar di media sosial hingga merambah lingkungan pendidikan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Kyai Bajra menyampaikan keprihatinan mendalam atas konten-konten yang dinilai dapat memicu ketakutan, kecemasan, bahkan mengganggu psikologis para pelajar, khususnya di Desa Kertaraharja, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak, Minggu (31/5/2026).
Menurutnya, perkembangan teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk menyebarkan ilmu pengetahuan, nilai moral, serta semangat pendidikan.
Namun sangat disayangkan jika justru digunakan untuk membuat editan menyerupai pocong yang kemudian disebarkan secara masif hingga masuk ke lingkungan sekolah.
“Kita prihatin jika ruang pendidikan yang seharusnya menjadi tempat belajar, tumbuh, dan membangun karakter generasi muda justru diselimuti konten-konten yang menimbulkan rasa takut. Apalagi jika sengaja dibuat untuk mengganggu ketenangan siswa dan masyarakat,” ujar Kyai Bajra.
Ia menegaskan bahwa dunia pendidikan harus dijaga dari berbagai bentuk konten yang berpotensi menciptakan kepanikan dan mengalihkan fokus peserta didik dari proses belajar.
Terlebih, banyak anak-anak yang belum mampu membedakan sepenuhnya antara rekayasa digital dan kenyataan, sehingga berisiko menimbulkan trauma maupun ketakutan berlebihan.
Kyai Bajra juga mengajak orang tua, guru, tokoh masyarakat, serta pemuda untuk bersama-sama memberikan edukasi mengenai penggunaan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.
Literasi digital, menurutnya, menjadi benteng penting agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh informasi maupun konten yang menyesatkan.
“Jangan sampai kreativitas digunakan untuk membuat keresahan. Mari kita isi ruang digital dengan hal-hal yang bermanfaat, mendidik, dan membangun akhlak generasi penerus bangsa,” tegasnya.
Di tengah derasnya arus informasi digital, Kyai Bajra berharap masyarakat tidak mudah terpancing oleh konten-konten yang sengaja dibuat untuk mencari sensasi.
Ia juga mengimbau agar pihak terkait melakukan pengawasan serta pembinaan, sehingga lingkungan pendidikan tetap menjadi tempat yang aman, nyaman, dan kondusif bagi tumbuh kembang siswa.
Fenomena editan pocong yang belakangan viral ini pun menjadi perhatian banyak kalangan. Masyarakat berharap adanya kesadaran bersama agar teknologi tidak disalahgunakan untuk menciptakan ketakutan, melainkan menjadi sarana membangun peradaban yang cerdas, beretika, dan berkeadaban.
(Jie/Red)

0 Komentar